Aktivitas Gunung Anak Krakatau yang masih tinggi kembali mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan bencana di lingkungan pendidikan. Sekolah yang berada di wilayah rawan bencana tidak cukup hanya mengandalkan imbauan ketika erupsi terjadi, tetapi perlu memiliki sistem mitigasi yang dipahami oleh seluruh warga sekolah.
Kondisi gunung api yang dapat berubah sewaktu-waktu membuat pendidikan kebencanaan menjadi kebutuhan penting. Siswa perlu mengetahui apa yang harus dilakukan ketika terjadi erupsi, bagaimana mengikuti arahan evakuasi, serta bagaimana membedakan informasi resmi dengan kabar yang belum terverifikasi.
Guru juga memiliki peran strategis dalam membangun budaya kesiapsiagaan. Materi mitigasi bencana dapat dikenalkan melalui pembelajaran, simulasi evakuasi, kegiatan ekstrakurikuler, maupun edukasi rutin sehingga siswa tidak panik ketika menghadapi situasi darurat.
Sekolah di kawasan rawan juga perlu memastikan jalur evakuasi, titik kumpul, komunikasi darurat, dan koordinasi dengan pemerintah daerah berjalan dengan baik. Keselamatan peserta didik harus menjadi prioritas utama dalam setiap kebijakan pendidikan saat terjadi peningkatan aktivitas vulkanik.
Erupsi Anak Krakatau dengan demikian bukan hanya persoalan geologi, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat pendidikan kebencanaan. Sekolah harus menjadi ruang yang mampu membentuk generasi bukan hanya cerdas secara akademik, tetapi juga tanggap, disiplin, dan siap menghadapi risiko bencana.











