Anggaran Tergerus, Budaya Jogja Terancam: TBY Pangkas 30 Persen Event

Sektor kebudayaan Yogyakarta menghadapi tekanan serius pada 2026. Keterbatasan anggaran dan sumber daya manusia (SDM) memaksa Taman Budaya Yogyakarta (TBY) memangkas volume kegiatan seni sekitar 25–30 persen, sekaligus mengurangi jumlah kurator. Kondisi ini berisiko mempersempit ruang ekspresi seniman sekaligus mengganggu keberlanjutan ekosistem seni di Yogyakarta.

Pemangkasan tersebut bukan sekadar pengurangan agenda, tetapi menunjukkan semakin terbatasnya kapasitas pemerintah dalam menopang aktivitas kebudayaan. Sejumlah kegiatan yang sebelumnya digelar lima kali dalam setahun kini hanya dapat dilaksanakan tiga kali. Program pelatihan anak yang sebelumnya mencapai 28 kali juga harus ditekan menjadi sekitar 25 kali.

Persoalan tidak berhenti pada anggaran. TBY hanya ditopang sekitar 25 personel, termasuk 11 tenaga kontrak. Pada Agustus 2026, dua pegawai memasuki masa pensiun dan dua lainnya diperkirakan menyusul pada tahun berikutnya. Kekurangan SDM membuat pengelolaan program, kurasi, hingga pendampingan seniman semakin berat.

Meski demikian, denyut kebudayaan Yogyakarta tidak sepenuhnya berhenti. Pemerintah dan komunitas tetap mengupayakan agenda terkurasi melalui berbagai kegiatan, termasuk Jogja Manggatra 2026. Namun, keberlanjutan budaya tidak cukup hanya dengan mempertahankan agenda. Jika tekanan anggaran dan kekurangan SDM terus berlangsung, pemerintah harus memastikan efisiensi tidak berubah menjadi pengurangan ruang hidup bagi seniman. Sebab, kekuatan Yogyakarta sebagai kota budaya pada akhirnya ditentukan bukan oleh banyaknya acara, melainkan oleh kemampuan menjaga ekosistem seni tetap hidup dan berkembang.