Penolakan warga dan aliansi masyarakat terhadap rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di kawasan Gunung Ungaran bukan sekadar persoalan proyek energi. Di balik polemik tersebut terdapat pertanyaan yang lebih mendasar: pendidikan seperti apa yang sedang kita wariskan kepada generasi muda ketika alam hanya dipandang sebagai ruang eksploitasi?
Gunung Ungaran bukan hanya bentang alam yang menyimpan potensi energi. Kawasan pegunungan juga merupakan ruang kehidupan, sumber air, habitat keanekaragaman hayati, sekaligus laboratorium pendidikan yang mengajarkan manusia tentang keseimbangan ekologis. Karena itu, setiap keputusan pembangunan semestinya tidak hanya dihitung berdasarkan keuntungan ekonomi dan kebutuhan energi, tetapi juga melalui pertimbangan moral, keberlanjutan, serta hak generasi mendatang.
Pendidikan moral seharusnya tidak berhenti pada hafalan tentang kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian. Nilai tersebut harus diterjemahkan menjadi keberanian menjaga lingkungan ketika kepentingan ekonomi berhadapan dengan keberlanjutan kehidupan. Merusak alam tanpa mempertimbangkan dampaknya kepada generasi berikutnya merupakan persoalan etika, bukan semata persoalan teknis pembangunan.
Jika pendidikan mengajarkan manusia untuk mencintai kehidupan, maka Gunung Ungaran harus menjadi bagian dari pembelajaran tersebut. Sekolah, pesantren, dan perguruan tinggi perlu menjadikan konflik ekologis sebagai ruang pendidikan kritis agar generasi muda memahami bahwa kemajuan tidak boleh dibayar dengan hilangnya sumber kehidupan.
Sebab, ketika gunung kehilangan hutannya, masyarakat kehilangan airnya, dan generasi mendatang kehilangan ruang hidupnya, yang sebenarnya sedang dipertaruhkan bukan hanya Gunung Ungaran, melainkan moralitas manusia dalam menentukan arti sebuah pembangunan.
