Ekonomi Indonesia masih menunjukkan ketahanan di tengah tekanan ekonomi global. Pada triwulan II-2026, pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 5,29 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Kinerja tersebut terutama ditopang konsumsi rumah tangga yang tetap tumbuh positif sebesar 5,06 persen.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan capaian tersebut menjadi sinyal bahwa aktivitas ekonomi domestik masih menjadi penyangga utama pertumbuhan.
Namun, angka pertumbuhan tersebut tidak berarti Indonesia terbebas dari risiko. Pemerintah masih menghadapi tantangan menjaga daya beli masyarakat ketika inflasi tahunan pada Agustus 2026 tercatat 3,19 persen. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi salah satu penyumbang tekanan harga.
Di tingkat global, ketidakpastian juga meningkat. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah berpotensi memicu negative supply shock energi yang dapat meningkatkan biaya produksi dan transportasi. Pada saat yang sama, investasi teknologi dan kecerdasan buatan (AI) membuka peluang baru bagi produktivitas dan pertumbuhan ekonomi.
Pemerintah pun menghadapi tantangan untuk mendorong pertumbuhan lebih tinggi. Capaian semester pertama 2026 berada di kisaran 5,45 persen, sementara target pertumbuhan ekonomi nasional membutuhkan akselerasi yang lebih kuat.
Dalam konteks tersebut, Sensus Ekonomi 2026 (SE2026) menjadi penting untuk memetakan struktur usaha nasional. Data tersebut diharapkan menjadi dasar kebijakan yang lebih tepat dalam membaca kondisi pelaku usaha, investasi, dan transformasi ekonomi.
Pertumbuhan 5,29 persen akhirnya bukan sekadar angka. Ujian sebenarnya adalah apakah pertumbuhan tersebut mampu menjaga daya beli, memperluas kesempatan usaha, dan membuat manfaat ekonomi terasa lebih merata.










